Pagi itu koridor RS Mata Cicendo (RSMC) Bandung seperti biasa dipenuhi berbagai kalangan masyarakat dengan aneka masalah indera penglihatan. Mereka bukan cuma dari Bandung dan sekitarnya, tapi juga dari luar Pulau Jawa. Begitulah keseharian RSMC di jalan Cicendo No. 4, yang pada 24 Januari lalu genap berusia satu abad dengan 438 karyawan, sebagai RS Mata rujukan nasional bagi bangsa Indonesia.Sebagai RS Mata rujukan nasional bagi segenap penduduk Indonesia, pantas jika RSMC juga terus ‘diserbu’ para pasien dari keluarga miskin. Lalu, berapa biaya pengobatan yang harus mereka keluarkan? “Gratis, ini kan Jamkesnas yang berlaku bagi seluruh penduduk Indonesia. Sedangkan bagi penduduk luar kota Bandung dapat memakai SKTM [Surat Keterangan Tidak Mampu],” kata dr. M. Kautsar Boesoirie SpM.MM, Direktur Utama RSMC. Bagi penduduk seputar Bandung lainnya, dia melanjutkan, dapat memakai Gakinda (Keluarga Miskin Daerah: Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi). Kautsar lalu bercerita bahwa pada 2008, rasio dokter dan pasien mata sekitar 1 banding 300.000 orang. “Idealnya 1 banding 25.000. Makanya, saya tidak mau menjadi kiper yang hanya menunggu bola datang,” ujarnya. Menurut dia, RSMC memakai prinsip total football dalam melawan kebutaan di Indonesia, yang pada 2006 mencapai 3,6% dari total penduduk usia 40 tahun ke atas dan 80,6% diantaranya akibat penyakit katarak. Sebenarnya katarak bukan penyakit prioritas untuk dibasmi, tapi para penderitanya berpotensi membebani kaum produktif di sekitarnya. Karena itu, untuk melawan kebutaan di Indonesia, perlu dilakukan operasi katarak yang masiv di RSMC, sehingga produktivitas bangsa Indonesia sedikit-demi sedikit dapat ditingkatkan. Lasik Salah satu saksi hidup keampuhan RSMC adalah Tantra, vokalis Band Numata. “Sebelumnya kedua mata saya minus 6,5. Namun setelah menjalani operasi Lasik di RSMC, mata saya kembali normal dan tidak perlu menggunakan kacamata lagi,” ujarnya.RSMC memang “total” dalam memberikan pelayanan kesehatan, a.l. tercermin melalui fasilitas instalasi farmasi, instalasi patologi klinik (laboratorium) dan penyediaan ambulans, yang semuanya beroperasi 24 jam non stop. Pasien tidak perlu khawatir akan “ditelantarkan”. Dari 438 karyawan RSMC, 38 diantaranya dokter spesialis mata, 2 dokter spesialis anestesi, 1 dokter spesialis patologi klinik, 1 dokter umum, 45 dokter residen, 109 perawat, 59 tenaga paramedis, 137 tenaga administrasi dan 48 tenaga honorer. Kepiawaian mereka telah mengantar RSMC untuk menerima menerima pelatihan dan rujukan dari dalam dan luar negeri, setiap tahun.
JALAN WESHOFF Perjalanan panjang RSMC terpatri pula dalam sepenggal jalan Weshoff, beberapa ratus meter diantara jalan layang Pasopati dan bangunan RSMC. Nama jalan ini diambil dari nama Dr. C.H.A. Westhoff, dokter berkebangsaan Belanda, direktur pertama Koningin Wilhelmina Gastuis Ooglijders (kini, RSMC) sejak 3 Januari 1909. Saat pendudukan Jepang (1942-1945), RSMC sempat menjadi RS Umum. Ketika itu RS Rancabadak yang kini dikenal sebagai RS Hasan Sadikin berfungsi sebagai RS Militer.Jaman kemerdekaan hingga 2007 terjadi perubahan penting. Melalui SK Menteri Kesehatan tanggal 15 Januari 2007, RSMC ditetapkan sebagai Rumah Sakit Khusus Kelas A Pendidikan. Terakhir keluar SK Menteri Keuangan RI tanggal 21 Juni 2007 dan SK Menteri Kesehatan No 756 tahun 2007, yang menetapkan RSMC sebagai instansi pemerintah yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU). Misi sosial dan pendidikan di RSMC ini memang sangat kental. Uniknya masih jarang yang tahu bahwa berbagai fasilitas di RSMC sudah berkelas dunia. Saat ini bahkan beberapa dokter mata dari Kuwait dan Jepang sedang belajar di RSMC. Ke depan, visi RSMC adalah menjadi rumah sakit mata rujukan yang mendunia, The Best Future of Our Cicendo Eye Hospital. Kautsar mengaku berat melaksanakan visi ini, namun hal ini harus dilakukan. “Peralatan yang kami miliki secara umum, terutama yang paling canggih dalam pengobatan mata di dunia sudah di-approved oleh FDA [Food and Drugs Association] AS,” paparnya. FASILITASRintisan visi itu telah dimulai sejak 1999 ditandai kehadiran pelayanan paviliun, semacam one stop service bagi perawatan mata, khususnya bagi kalangan masyarakat tertentu yang selama ini berorientasi luar negeri. Paviliun ini baru beroperasi penuh pada 2001, dengan tujuan jangka panjang sebagai center of excellence dan pusat rujukan kesehatan mata nasional.
Pada paviliun ini berbagai fasilitas pemeriksaan pasien Refraktometer, Non Contact Tonometer, Perimeter Octopus, Biometri, Ultrasonografi Mata, Topografi Korne, Nd.Yag Laser, Argon laser, LASIK, Foto Fundus, FFA,OCT dan Humprey. Pelayanan gawat darurat pun sudah lama ada, disamping optik, apotek dan laboratorium klinik. Khusus untuk kamar bedah dilengkapi HEPA Filter, mikroskop operasi dengan closed circuit television, bedah katarak Fakoemilsifikasi, Bedah Vitreretina, Glaukoma, Okuloplasti, Strabismus dan lain-lain.
RSMC juga menyediakan beberapa instalasi rawat inap lain seperti kamar Kelas I (12 tempat tidur), Kelas II (28 tempat tidur), Kelas III (60 tempat tidur). Agar pasien mendapatkan pelayanan yang prima, RSMC menyediakan fasilitas 10 kamar operasi untuk melayani berbagai jenis bedah mata dengan peralatan mutakhir serta pelayanan selama 24 jam non stop. Lalu bagaimana dengan keluarga pasien? RSMC menyediakan pelayanan penunjang non medis seperti asrama, kantin, wartel/kiospon, koperasi, area parkir dan masjid. ”Dalam satu tahun kami melayani sekitar 100.000 pasien,” ungkap dr. Iwan Sovani, SpM-KVR.MKes.MM, ketua Panpel Peringatan 100 Tahun RSMC. So, mengapa harus jauh-jauh ke luar negeri untuk urusan mata? (IXN/HS)
| |